
Jabodetabek.id – Seorang pria Palestina, yang Salim Abd Al-Karim Hasarma (44 tahun), saat ini telah menjadi korban ke-100 yang terbunuh.
Ini karena tembakan pasukan Israel yang terjadi tahun ini, dia ditembak mati pada Senin (18/10) pagi di Kota Bi’na.
Saudaranya, Ibrahim Hasarma juga ditembak mati pada Desember 2019. Polisi Israel mengatakan dalam sebuah pernyataan jika pria bersenjata tidak dikenal telah menembak dari mobil yang lewat ke kendaraan lain, Dilansir dari The New Arab.
Baca juga : Akhirnya, Taliban Setujui Anak-anak Vaksinasi Polio dan WHO-UNICEF Sambut Program Tersebut
“Akibat penembakan itu, seorang pria berusia empat puluhan terluka parah. Kematiannya lalu dikonfirmasi staf medis,” kata polisi.
Peristiwa kekerasan senjata komunitas Palestina di Israel banyak menyumbang lebih dari 60 persen dari semua korban pembunuhan.
Dan secara nasional meskipun warga Palestina Israel hanya berjumlah lebih dari 20 persen dari populasi.
Baca juga : Lahan Pohon Zaitun Petani Palestina Habis Dirampok Pemukim Israel
Dari informasi yang diperoleh ada lebih dari 400 ribu senjata ilegal di antara warga Palestina di Israel, meskipun populasinya hanya lebih dari dua juta.
Dalam hal ini pun banyak menuai kritik karena diduga gagal mengatasi kekerasan intra-Palestina dalam batas-batas Israel pada 1948.
Warga Palestina di Israel megaku banyak menghadapi diskriminasi dan juga sering mengeluh diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.
Juga banyak dikatakan warga Palestina Israel sering berselisih dengan polisi Israel, sebuah lembaga yang mereka yakini tidak berbuat banyak untuk menghentikan epidemi kejahatan senjata di dalam komunitas mereka.
Perlu diketahui sebelumnya Perdana Menteri Mohammad Shtayyeh mengecam kebijakan tembak mati kepada rakyat Palestina yang biasa dilakukan tentara Israel di wilayah pendudukan.
Itu juga disebutnya sebagai melanggar kemanusiaan dan hukum internasional.
Dia mengecam keras kebijakan Israel tersebut dan mendesak organisasi hak asasi internasional untuk berbicara menentangnya.
“Ada peningkatan terorisme dan kekerasan yang menargetkan orang-orang kami dari tentara dan pemukim Israel,” katanya.
“Selama paruh pertama tahun ini, jelas bahwa ada praktik kebijakan tembak-menembak yang dilakukan Israel terhadap rakyat kami. Ini tidak lebih dari kebijakan kriminal yang harus dihentikan dan masyarakat internasional serta organisasi internasional harus mengangkat suara mereka dan menulis laporan mereka untuk mengekspos kebijakan ini oleh kekuatan pendudukan,” jelasnya.
Menurut PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) di wilayah-wilayah pendudukan saat itu Israel menembak dan membunuh sedikitnya 60 orang Palestina pada September di Tepi Barat.
Dan ini adalah kasus yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah 24 korban sepanjang 2020. (Dari berbagai sumber).











Leave a Reply