
Jabodetabek.Id – Tragedi kecelakaan Kereta Rel Listrik (KRL) yang tertabrak Kereta Api (KA) Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur sudah lebih dari sepekan berlalu usai terjadi pada Senin, 27 April 2026.
Salah satu dugaan penyebab insiden yang menuai sorotan, yakni adanya 1 unit taksi Green SM yang sempat tertemper di area stasiun hingga membuat KRL terkait terpaksa berhenti.
Nahas, KRL itu terhantam derasnya laju KA Argo Bromo yang diduga mengalami kesalahan deteksi sinyal perkeretaapian di area Stasiun Bekasi Timur.
Kini, manajemen Taksi Green SM melakukan audiensi dengan pihak Korlantas Polri buntut mobilnya yang diduga jadi awal mula penyebab kecelakaan tersebut, pada Selasa, 5 Mei 2025.
Audiensi tersebut lantas memantik perhatian publik usai sebelumnya deras dugaan para pengemudi taksi Green SM perlu mendapatkan pembinaan buntut kasus ini.
Lantas, bagaimana penuturan pihak kepolisian maupun manajemen Green SM terkait insiden kecelakaan beruntun di Stasiun Bekasi Timur itu? Berikut ini ulasannya.
Polisi Soroti Pengemudi Green SM
Dalam kasus ini, Kakorlantas Polri, Irjen Pol Agus Suryonugroho menerangkan, setiap peristiwa kecelakaan harus dilihat secara menyeluruh.
Agus menjelaskan, penyebab kecelakaan tidak hanya berasal dari faktor pengemudi atau human error, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh kondisi kendaraan, perusahaan, hingga hingga faktor jalan dan lingkungan.
“Tidak absolut kesalahan ada pada pengemudi. Bisa juga dari kendaraan atau manajemen. Bahkan korporasi bisa ikut bertanggung jawab,” kata Agus dalam keterangan resminya di Jakarta, pada Selasa, 5 Mei 2026.
Agus lantas menerangkan, dalam hal ini juga pentingnya dilakukan evaluasi terhadap kejadian kecelakaan, termasuk yang terjadi di perlintasan sebidang kereta api.
“Hasil analisis kecelakaan dapat menjadi dasar untuk memperbaiki sistem pengawasan dan tata kelola perusahaan transportasi,” bebernya.
10 Ribu Pengemudi Diklaim Perlu Dibina
Atas insiden ini, Agus menyoroti perlu adanya sistem traffic attitude record untuk memantau perilaku pengemudi secara terintegrasi.
Agus mengakui pihaknya telah menawarkan program pelatihan ulang bagi puluhan ribu pengemudi taksi Green SM melalui Indonesia Safety Driving Center (ISDC).
“Dari sekitar 10 ribu pengemudi, perlu ada kontrol dan pembinaan. Bisa dilatih kembali agar lebih disiplin dan patuh,” tegas Agus.
Green SM Akui Terkendala Pelatihan
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Taksi Green SM, Denny Gunawan mengakui pihaknya masih mempunyai sejumlah aspek yang perlu ditingkatkan, terutama dalam pembinaan pengemudi.
Dalam hal ini, Denny menyebut pihaknya tengah menyiapkan program pelatihan ulang untuk membangun budaya keselamatan.
“Kami berharap edukasi dari pihak yang berkompeten bisa menjadi tolok ukur bagi driver untuk tidak mengulangi pelanggaran,” ujar Denny.
Green SM menuturkan, pihaknya juga akan melibatkan jajaran lalu lintas dalam program pelatihan pengemudi, termasuk saat pengembangan jumlah armada.
Di samping itu, Denny menyatakan pihaknya siap bertanggung jawab usai taksinya diduga jadi salah satu penyebab insiden kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur.
“Kami juga sudah melakukan beberapa langkah, salah satunya menghubungi korban, terlepas dari proses investigasi yang berjalan,” tandasnya.










Leave a Reply