
Jabodetabek.id – Gaza saat ini telah mengalami krisis air bersih yang berdampak cukup signifikan terhadap warganya.
Ada sebagian besar warga Gaza harus membeli air minum dari pemasok swasta karena air keran biasanya terlalu asin untuk diminum.
Dengan tercemarnya sumber air di Jalur Gaza, berdampak serius pada kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak. Mereka menghadapi risiko penyakit yang ditularkan melalui air.
Falesteen Abdelkarim (36 tahun) dari kamp pengungsi Al-Shati mengatakan air di daerahnya tidak bisa diminum.
Baca juga : 10 Orang Agen Intelijen Asing Ditangkap di Iran, Berasal Dari Negara Mana Mereka
“Rasanya seperti berasal dari laut. Kami tidak bisa menggunakannya untuk minum, memasak, atau bahkan mandi,” kata Abdelkarim dilansir Aljazirah, Rabu (13/10).
Abdelkarim mengatakan warga memiliki akses untuk menggunakan air keran hanya tiga kali seminggu.
Terkadang air itu bercampur dengan limbah karena infrastruktur yang rusak di kamp-kamp pengungsi.
“Hidup di kamp-kamp pengungsi sangat menyedihkan. Kami selalu membeli air minum dari pedagang kaki lima,” kata Abdelkarim.
Baca juga : Pertemuan Taliban dan Uni Eropa Sama Halnya dengan AS, Soal Bantuan Kemanusiaan ‘Berbobot’
Sebenarnya air yang dijual pedagang pun terasa seperti garam, tapi pedagang air swasta di Gaza itu menghilangkan garam air dan menjualnya kepada orang-orang di wilayah tersebut.
Untuk harga 1000 liter air biasanya rata-rata adalah 30 shekel atau tujuh dolar AS.
Organisasi hak asasi manusia telah memperingatkan krisis air bersih yang semakin memburuk di Jalur Gaza.
Pada sesi ke-48 Dewan Hak Asasi Manusia PBB Senin (11/10) lalu, Institut Global untuk Air, Lingkungan, dan Kesehatan serta Pemantau Hak Asasi Manusia Euro-Mediterania mengatakan air di Gaza tidak dapat diminum dan secara perlahan telah meracuni warga.
Baca juga : Presiden Filiphina Kerahkan ‘Dokter Ninja’ untuk ‘Memaksa’ Warga Suntik Vaksin Pada Waktu Tidur
“Blokade Israel telah menyebabkan kerusakan serius keamanan air di Gaza dan membuat 97 persen air terkontaminasi. Penduduk dipaksa untuk menyaksikan anak-anak dan orang yang mereka cintai mengalami keracunan,” kata pernyataan sejumlah organisasi hak asasi manusia.
Seorang ahli air yang berbasis di Gaza, Ramzy Ahel, menerangkan pembicaraan tentang krisis air dimulai pada 2012 ketika PBB mengeluarkan pernyataan yang mengatakan Gaza akan menjadi tempat yang tidak layak huni pada 2020.
Sembilan tahun sejak pembicaraan krisis air dimulai, angka dan statistik menunjukkan fakta mengerikan tentang situasi air di Jalur Gaza.
“Semua strategi pembangunan ditunda dan satu-satunya akuifer dari jalur tersebut telah lumpuh selama bertahun-tahun. Tidak ada alternatif, tidak ada sungai atau lembah di Jalur Gaza untuk menghentikan krisis air,” kata Ahel.
Ahel setuju situasi putus asa diperkuat oleh pengepungan Gaza selama 14 tahun oleh Israel.
Dan menurutnya, blokade yang melumpuhkan di Gaza semakin memperburuk masalah.
“Kami belum bisa membawa peralatan untuk pembangunan pabrik desalinasi pusat selama bertahun-tahun. Satu-satunya pabrik desalinasi juga rusak selama serangan di Gaza (pada Mei),” kata Ahel.
Ahel menuduh Israel membuang air limbah ke Gaza dan memutus arus listrik yang berkelanjutan.
Ahel juga mengatakan pabrik desalinasi dan pengolahan limbah membutuhkan arus listrik yang konstan.
Krisis listrik akut juga menghambat pengoperasian sumur air dan pabrik pengolahan limbah yang menyebabkan 80 persen limbah Gaza yang tidak diolah dibuang ke laut. Sementara 20 persen merembes ke bawah tanah.
“Ada kebutuhan mendesak untuk sikap serius PBB dan komunitas internasional untuk menyelamatkan Jalur Gaza yang telah menjadi tempat tidak layak huni,” kata Ahel.
Kepala komunikasi di Euro-Med Monitor, Muhammed Shehada, mengatakan sekitar seperempat penyebaran penyakit di Gaza disebabkan oleh polusi air.
Sementara 12 persen kematian anak kecil terkait dengan infeksi usus akibat air yang terkontaminasi.
Shehada menambahkan serangan 11 hari Israel di Gaza pada Mei lalu sangat memengaruhi infrastruktur air dasar dan memperburuk krisis di daerah tersebut.
Otoritas kota Gaza menyebut 290 fasilitas pasokan air, termasuk satu-satunya pabrik desalinasi di Gaza utara, rusak selama serangan itu. Jaringan pembuangan limbah juga hancur dan jalan-jalan dipenuhi dengan air kotor.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tingkat salinitas dan nitrat di air tanah Gaza telah berada di atas pedoman untuk air minum yang aman. Sekitar 50 persen anak-anak Gaza menderita infeksi yang berhubungan dengan air. (Dari berbagai sumber).















Leave a Reply