
Jabodetabek.id – Lebih dari dua bulan berlalu usai banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025.
Namun, momen menegangkan dan berjuang untuk bertahan saat peristiwa tersebut terjadi masih diingat oleh para penyintas.
Salah satunya momen warga di Kuala Simpang, Aceh Tamiang saling membantu satu sama lain untuk mengevakuasi diri di awal banjir mulai merendam rumah.
Diunggah oleh akun Instagram @keila_dwi_putri_real pada Minggu, 8 Februari 2026, ia membagikan saat keluarganya bersama para tetangga bertahan di rooftop rumahnya selama hampir 2 minggu.
Sempat Melakukan Antisipasi Beli Sembako
Pemilik akun tersebut mengungkapkan bahwa setelah air mulai masuk ke rumah, ia berinisiatif untuk membeli sembako sebagai stok beberapa hari.
Dalam video terlihat bahkan air sudah mencapai tinggi setengah body mobil yang dikendarainya saat membeli sembako.
“Kami kejar-kejaran dengan kuota air yang semakin naik, nekat terus nerobos banjir walau sensor mobil terus bunyi karena yang kami pikir, saat itu kami harus sampai rumah dan nggak kebawa arus di jalan,” tuturnya.
Barang di dalam rumah pun sempat dinaikkan ke tempat yang lebih tinggi, tapi akhirnya merelakan karena semua sudut rumah sudah penuh dengan air.
“Aku langsung prepare tempat buat evakuasi barang ke lebih tinggi. Bingung sebagian barang nggak tahu harus evakuasi ke mana dan akhirnya pasrah aja,” imbuhnya.
Bersama para Tetangga Mengungsi hingga Rooftop
Beberapa orang tetangga lantas berdatangan dan sama-sama mencari tempat yang lebih aman.
“Ke tempat yang paling tinggi, menuju loteng. Bawah, air sudah mau mencapai tangga. Banyak balita dan ada dua orang tua yang sakit. Ini barang udah mulai mengapung,” sambungnya.
Kondisi air yang semakin naik membuatnya dan para tetangga harus mengevakuasi diri hingga keluar ke rooftop.
“Khawatir jika kami tertidur, air bisa mencapai kami dan kami akhirnya melek sampai pagi,” lanjutnya.
Bertahan 12 Hari dengan Tenda di Rooftop Rumah
Terlihat dalam video tersebut, sejumlah orang berkumpul dalam tenda di rooftop dengan sekitar rumah yang sudah terendam air.
“Aku dan tetangga baik ke rooftop rumah dan bangun tenda, bawa bekal makanan dan peralatan masak yang masih bisa selamat. 12 hari kamu bertahan menunggu banjir surut,” paparnya.
Selama pascabanjir di masa awal, ia mengungkapkan bersama para tetangga mengalami krisis air bersih hingga hanya makan makanan seadanya.
“Kami bersihkan lumpur rumah masing-masing, bertahan hidup tanpa air bersih, makanan tidak steril, malam kehujanan dan panas terik di bawah tenda,” sambungnya.
“Tapi, kami semua saling bantu, saling jaga, saling kerja sama, Masya Allah,” tukasnya.
Sementara itu, saat ini Aceh Tamiang bersama dengan Aceh Tengah dan Pidie Jaya masih berstatus tanggap darurat.
Meski 3 kabupaten masih tanggap darurat, tapi Provinsi Aceh sendiri sudah mengumumkan masuk ke transisi darurat menuju pemulihan.
Tanggap darurat masih perlu diberlakukan karena masih ada wilayah yang sulit dijangkau dan kebutuhan logistik yang perlu disalurkan.










Leave a Reply