Jabodetabek.Id – Beredar video di media sosial, sebuah pernyataan kontroversial yang diduga oleh Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) Kalimantan Tengah (Kalteng), Muhammad Reza.
Dalam unggahan Instagram @jakartainfoterkini.id, pada Minggu, 31 Agustus 2026, Reza membahas kebijakan sekolah di tengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Usut punya usut, hal tersebut disampaikan Reza dalam rapat koordinasi pembelajaran selama masa karhutla bersama kepala sekolah SMA, SMK dan SKH se-Kalteng melalui Zoom, pada Sabtu, 29 Agustus 2026.
Salah satu pernyataan yang viral saat Reza membahas dampak jika sekolah diliburkan, dengan menyinggung operasional dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga aktivitas kantin sekolah.
“Karena ketika sekolah diliburkan, berpengaruh juga pada dapur-dapur MBG (mati),” kata Reza.
“Kita mengerti, Bapak Ibu ya? Bapak Ibu saya harap baik-baik saja punya kebijaksanaan juga dapur MBG mati bu, kantin-kantin mati bu habis itu,” sambungnya.
Reza: Mereka ke Kafe, Buat Masalah
Dalam kesempatan yang sama, Reza juga menyoroti soal dampak sosial yang dinilainya akan membayangi anak-anak apabila sekolah diliburkan.
“Belum lagi dampak ketika anak-anak diliburkan mereka yang seharusnya mereka di rumah mereka ke kafe-kafe buat keributan, buat masalah iya,” ungkap Reza.
Bagian lain yang ikut menuai sorotan adalah kekhawatiran Reza terhadap aktivitas siswa apabila kegiatan sekolah dihentikan.
“Nanti kita yang pusing, Bu. Habis itu nanti ada ini orang tuanya apa segala macam. Nah, ini pusing lagi kita, Bu,” imbuhnya.
30 Menit Setiap Pelajaran
Pembahasan dalam video itu juga berkaitan dengan penyesuaian kegiatan belajar mengajar selama kondisi karhutla.
Atas hal tersebut, Kadisdik Kalteng lantas meminta pihak sekolah tidak menerapkan aturan secara kaku dan menyampaikan rencana penyesuaian jam masuk siswa.
“Jadi, saya meminta kepada Bapak dan Ibu. Mohon nanti ini saya akan buatkan surat edaran. Masuknya jam 8 untuk adik-adik, gitu kan,” jelas Reza.
“Nanti pulangnya mungkin karena kita sudah setting di 30 menit tiap jam pelajaran,” bebernya.
Reza: Jangan Sampai Gerbang Ditutup
Reza kemudian menyoroti kondisi darurat seperti kabut asap membutuhkan kebijakan yang lebih manusiawi, dan fleksibel tanpa menghilangkan ketertiban.
“Jangan sampai pintu gerbang sekolah ditutup begitu saja ketika siswa terlambat, mengingat mereka sudah jauh-jauh ke sekolahan,” terang Reza.
Reza menilai, keselamatan siswa harus menjadi pertimbangan dalam penerapan aturan sekolah selama kondisi karhutla.
Oleh karena itu, sekolah diminta menyesuaikan pelaksanaan teknis dengan kondisi masing-masing.
Hal yang sama berlaku ketika sekolah harus memulangkan siswa lebih cepat dari jadwal normal.
“Jika keadaan memang mengharuskan siswa pulang sebelum waktunya, pastikan mereka dipulangkan bersama-sama dengan siswa lain berdasarkan kesepakatan bersama,” tandasnya.
Terkait jabatannya, sebelumnya Reza telah menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pendidikan Kalteng sebelum kemudian ditetapkan sebagai kepala dinas definitif.
Hingga kini, belum ada klarifikasi resmi dari pihak terkait ihwal dugaan kebijakan kontroversial yang melibatkan sosok Kadisdik Kalteng tersebut.











Leave a Reply