Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Di Balik 6.457 Korban MBG, Ada Kisah Cucu Mahfud MD yang Jadi Korban dari 8 Siswa Kelas yang Keracunan di Sekolah Jogja

Eks Menko Polhukam, Mahfud MD ceritakan kasus cucunya yang dikabarkan keracunan usai menyantap menu MBG di sekolah.
Eks Menko Polhukam, Mahfud MD ceritakan kasus cucunya yang dikabarkan keracunan usai menyantap menu MBG di sekolah. (Foto: Instagram.com/@mohmahfudmd)

Jabodetabek.Id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tengah menjadi perhatian sebagian publik terkait pelaksanaannya yang diliputi kasus keracunan massal yang marak terjadi akhir-akhir ini.

Salah satu contoh kasus yang kini tengah menjadi perhatian, yakni datang dari penuturan mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD yang secara terbuka menceritakan cucunya ikut menjadi korban keracunan makanan dalam program MBG di sekolah.

Melalui kanal YouTube pribadinya Mahfud MD Official, pada Rabu, 1 Oktober 2025, Mahfud mengungkap dua orang cucunya yang bersekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengalami muntah-muntah setelah menyantap menu MBG.

Bahkan, satu di antaranya harus dirawat selama empat hari di rumah sakit. Kisah itu sontak menuai sorotan publik terkait lemahnya standar kualitas sajian dalam distribusi MBG. Begini keluh kesahnya:

Mahfud MD: Satu Kelas, 8 Orang Muntah-muntah

Dalam pernyataannya, Mahfud menyampaikan cucunya mengalami keracunan bersama sejumlah siswa lain di sekolah yang sama.

“Cucu keponakan ya. Saya punya ponakan, ponakan saya tuh punya anak namanya Iksan. Makan siang gratis, ya masakan bergizi gratis, lalu satu kelas itu delapan orang langsung muntah-muntah,” ujarnya.

Mahfud lalu menuturkan, salah satu cucunya hanya dirawat di rumah, sedangkan cucu lainnya harus menjalani perawatan medis intensif.

Pengalaman tersebut membuat Mahfud semakin menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh dalam program MBG.

Bukan soal Angka, tapi Nyawa

Mahfud menekankan, meski jumlah korban terkesan kecil dibanding total penerima manfaat, keselamatan anak-anak tidak bisa dipandang hanya sebagai angka statistik.

Baginya, persoalan ini menyangkut nyawa manusia, sehingga pemerintah wajib menjadikannya prioritas utama.

“Karena itu menyangkut nyawa, menyangkut kesehatan. Jadi bukan persoalan angka,” tegas Mahfud.

Program Mulia yang Harus Dibenahi

Mahfud MD menekankan bahwa MBG sejatinya program mulia yang perlu dipertahankan.

Kendati demikian, Guru Besar Hukum Tata Negara itu menyoroti perbaikan kualitas harus dilakukan agar tujuan mulia meningkatkan gizi anak tidak berubah menjadi petaka di kemudian hari.

“Ini harus diteliti lagi apa masalahnya. Program MBG gratis ini adalah satu program yang paling bagus, mulia,” ujarnya.

Cerita Mahfud seakan menjadi alarm keras bagi pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Di tengah niat mulia meningkatkan gizi generasi muda, kelemahan dalam pengelolaan justru berisiko menimbulkan tragedi yang lebih besar bila tidak segera dibenahi.

Berkaca dari hal itu, pernyataan Mahfud kian relevan setelah Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hidayana mengungkap angka mengejutkan dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, pada Rabu, 1 Oktober 2025.

6.457 Korban Tercatat Secara Nasional

Dadan menuturkan, berdasarkan data BGN secara mutakhir hingga 30 September 2025, tercatat lebih dari 6.457 orang terdampak keracunan akibat MBG di berbagai wilayah Indonesia.

“Kita lihat di wilayah satu ada yang mengalami gangguan pencernaan sebanyak 1.307, wilayah dua bertambah, tidak lagi 4.147, ditambah dengan yang di Garut mungkin 60 orang. Kemudian wilayah III ada 1.003 orang,” ujar Dadan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 1 Oktober 2025.

Sanitasi Dapur Jadi Sumber Masalah

Dalam pemaparannya, Dadan menyoroti lemahnya standar sanitasi di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjadi dapur penyedia MBG.

Banyak dapur belum memiliki akses air bersih layak, sementara prosedur pencucian peralatan makan tidak sesuai standar kesehatan.

“Dari kejadian di berbagai tempat, tampak juga bahwa belum semua air di SPPG memiliki sanitasi yang baik. Sehingga memang kemudian Pak Presiden memerintahkan agar di seluruh SPPG dibutuhkan alat sterilisasi,” ungkap Dadan.

Sebagai langkah cepat, BGN telah menginstruksikan penggunaan air galon untuk memasak, serta penyaringan khusus untuk air cuci peralatan dan bahan makanan. Namun, perbaikan sistemik tetap menjadi tantangan besar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *