Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Ciptakan Kenangan Paling Manis, Begini Kisah Persahabatan Mendiang Pendaki Lilie dan Elsa yang Meninggal Dunia Bersamaan saat Mendaki Puncak Carstensz

Kebersamaan Lilie dan Elsa dalam Pendakian Gunung Semeru yang diunggah 8 November 2024 lalu.
Kebersamaan Lilie dan Elsa dalam Pendakian Gunung Semeru yang diunggah 8 November 2024 lalu. (Foto: instagram.com/mamakpendaki)

Jabodetabek.Id- Lilie Wijayanti Poegiono dan Elsa Laksono, dua pendaki yang meninggal dunia di Gunung Carstensz Pyramid, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, ternyata memiliki misi khusus dalam pendakian mereka.

Persahabatan yang telah terjalin sejak bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) antara Lilie dan Elsa berakhir tragis di puncak tertinggi Indonesia.

Kedua perempuan berusia 60 tahun ini ditemukan meninggal akibat hipotermia saat menjalani ekspedisi petualangan mereka.

Pendakian ke Puncak Carstensz ternyata bukan sekadar perjalanan biasa bagi mereka yang sudah bersahabat selama puluhan tahun.

Bagi Lilie dan Elsa, pendakian ini adalah pendakian terakhir dalam misi mereka menaklukkan tujuh puncak tertinggi di Indonesia.

Namun sayangnya, cuaca ekstrem dan kondisi alam yang berat menjadi tantangan terakhir bagi kedua sahabat ini.

Sebelum mendaki Puncak Carstensz, Lilie Wijayanti sempat membagikan kisahnya tentang kecintaannya terhadap dunia pendakian.

Melalui akun media sosial @mamakpendaki, ia menuliskan persahabatannya dengan Elsa yang memiliki hobi yang sama.

Lilie bercerita bahwa mereka pertama kali bertemu saat bersekolah di salah satu SMP di Malang, Jawa Timur.

Persahabatan mereka berlanjut hingga SMA, di mana mereka mulai mengenal dunia pendakian.

Gunung Bromo menjadi pengalaman pertama mereka saat berusia 18 tahun.

Namun, kesibukan karier membuat komunikasi mereka sempat terputus.

Lilie melanjutkan kuliah dan berkarier di Telkom, sementara Elsa menempuh pendidikan kedokteran gigi di Jakarta.

“Pertemanan Mamak Pendaki dan Mamak Gigi dimulai sejak bangku SMP, berlanjut ke SMA, dan kami mulai mendaki bersama. Setelah itu, komunikasi terputus. Saya melanjutkan kuliah dan bekerja di Telkom, sedangkan Elsa kuliah kedokteran gigi di Jakarta. Karena itu, dia disebut Mamak Gigi. Baru ketika media sosial mulai marak, kami kembali berjumpa,” tulis Lilie dalam unggahannya pada 8 November 2024.

Setelah bertahun-tahun tak berkomunikasi, mereka dipertemukan kembali oleh media sosial.

Pada ulang tahunnya yang ke-50, Elsa mengungkapkan keinginannya untuk mendaki Gunung Semeru sebagai hadiah.

Sejak saat itu, mereka bersama seorang teman membentuk kelompok pendakian bernama “Kura-Kura Gunung” yang terus berkembang dan aktif mendaki berbagai gunung di dalam maupun luar negeri.

Percaya atau tidak, Mak Gigi inilah yang membuat kami kembali mendaki. Saat itu, dia berulang tahun ke-50 dan ketika ditanya ingin hadiah apa, jawabannya adalah hiking ke Gunung Semeru. Jadilah kami mendaki dengan penuh drama dan gagal,” ungkap Lilie.

Mereka pun memiliki impian besar untuk menaklukkan tujuh puncak tertinggi di Indonesia atau “Seven Summits Indonesia”.

Dalam perjalanan tersebut, mereka telah mencapai puncak Gunung Semeru, Rinjani, Kerinci, Bukit Raya, Latimojong, dan Binaiya.

Puncak Carstensz di Papua menjadi tujuan terakhir mereka dalam misi ini.

Sayangnya, perjalanan ini menjadi yang terakhir bagi keduanya.

Dari situlah kami berdua dan seorang teman membentuk grup Kura-Kura Gunung dan berkembang hingga sekarang. Kami mendaki puluhan gunung di dalam dan luar negeri. Alam adalah playground kami. Entah mengapa, saat berada di alam kami bisa bergembira seperti menari di trek, lupa semua masalah. Kami bukan Dancing Queen, tapi Hiking Queen. Gunung adalah kerajaan kami,” tulis Lilie.

Sebelum meninggal dunia, Lilie dan Elsa ternyata telah menyelesaikan misi terakhir persahabatan mereka.

Mereka ingin memasang plakat bertuliskan nama sahabat mereka, Hanafi Tanoto, yang meninggal di Gunung Carstensz setahun sebelumnya.

Plakat tersebut bertuliskan: “Perjumpaan tidak pernah berakhir, seperti awan menjadi hujan dan kembali. Persatuanmu kekal, dalam kami dan semesta. Sang Khalik telah menyambutmu. Kau wariskan semangat yang kami teruskan.”

Misi tersebut berhasil mereka selesaikan sebelum akhirnya mereka meninggal dunia saat turun dari puncak karena hipotermia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *