Jabodetabek.id – Untuk tingkatan perkembangan industri teknologi di dunia, istilah Industri 4.0 atau revolusi industri keempat umum digunakan.
Sekitar abad ke 18 dan 19, revolusi industri pertama datang dengan munculnya mekanisasi, tenaga uap, dan tenaga air.
Mekanisasi ini kemudian diikuti oleh revolusi industri kedua, yaitu berkaitan dengan produksi massal dan jalur perakitan menggunakan listrik.
Baca Juga: Teknologi dan Masalah Eksitensi Diri, Sebuah Fenomena Kejiwaan Modern
Secara umum, Industri 4.0 menggambarkan pertukaran data dalam teknologi serta proses dalam industri manufaktur dan tren yang berkembang menuju otomasi.
Tren-tren tersebut diantaranya adalah Internet of Things (IoT), Industrial Internet of Things (IioT), Sistem fisik siber (CPS), artificial intelligence (AI), Pabrik pintar, Sistem Komputasi awan, dan sebagainya.
Kesimpulannya, industri 4.0 adalah tentang transformasi digital. Di Era industri ini dengan sistem gabungan yang dapat bekerja sama satu sama lain akan memungkinkan otomatisasi peralatan-peralatan.
Teknologi ini juga akan membantu memecahkan masalah dan melacak proses, sekaligus meningkatkan produktivitas dalam bisnis dan manufaktur di berbagai skala.
Baca Juga: Dorong Pengembangan IoT Lokal, Kominfo Maksimalkan 5G di Indonesia
Mengenal teknologi society 5.0
Konsep resolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 sebenarnya perbedaan yang dimiliki tidak jauh, akan tetapi konsep Society lebih focus pada konteks terhadap manusia.
Konsep Society 5.0 merupakan penyempurnaan dari konsep-konsep yang ada sebelumnya.
Society 5.0 era internet bukan hanya digunakan untuk sekedar berbagi informasi melainkan untuk menjalani kehidupan dimana semua teknologi adalah bagian dari manusia itu sendiri.
Dalam Society 5.0 dapat meminimalisir adanya kesenjangan pada manusia dan masalah ekonomi dikemudian hari dimana komponen utamanya adalah manusia yang mampu menciptakan nilai baru melalui perkembangan teknologi.
Transformasi digital
Transformasi digital mengacu pada proses dan strategi menggunakan teknologi digital untuk secara drastis mengubah cara bisnis beroperasi dan melayani pelanggan.
Ungkapan ini telah menjadi hal yang umum di era digitalisasi. Itu karena setiap organisasi semakin bergantung pada data dan teknologi untuk beroperasi lebih efisien dan memberikan nilai kepada pelanggan terlepas dari ukuran atau industrinya.
Sejarah Transformasi Digital, di mana merupakan konsep yang relatif baru meskipun teknologi komputer telah ada selama beberapa dekade.
Dengan diperkenalkannya internet mainstream konsep ini hadir pada 1990-an. Praktik transformasi digital biasanya digunakan dalam konteks bisnis.
Penciptaan model bisnis baru dan aliran pendapatan telah dipicu pengenalan teknologi digital.
Sebuah perusahaan tidak dapat sepenuhnya menyadari manfaat digitalisasi kecuali ketiga komponen transformasi digital orang, bisnis, dan teknologi bekerja bersama.
Hasil dari kerja sama tersebut dapat menjadi bisnis yang berfokus pada pelanggan yang berfokus pada memastikan setiap tindakan yang diambil dilakukan dengan mempertimbangkan pengalaman pelanggan.
Isu-isu dan dampak perkembangan teknologi
Isu-isu yang sering muncul pada perkembangan teknologi sekarang adalah keamanan atau privasi pribadi yang saat ini melemah karena adanya perkembangan teknologi ini.
Perekonomian digital juga membawa persaingan pasar semakin ketat. Berkembangnya e-commerce seolah menjadi keran masuknya produk-produk dari negara lain ke Indonesia dengan mudah.
Akibatnya, produk-produk lokal tidak berkembang akan tergerus oleh produk dari negara lain.
Dampak era revolusi industri 4.0 sangat signifikan terhadap bidang sosial. Sebab pada era ini telah menggunakan mesin berteknologi canggih, menggantikan peranan manusia dalam dunia industri.
Tentu hal ini berpengaruh terhadap ketersediaan lapangan kerja, sebab tenaga manusia tidak lagi diberdayakan dalam industri manufaktur. (Dari Berbagai Sumber).











Leave a Reply