
Jabodetabek.id – Banyak pembelajaran yang bisa kita pelajari dari sikap teladan Rasulullah SAW. Salah satunya adalah ketika sahabat Nabi yang meninggal dunia, maka Rasulullah SAW mensalati jenazah tersebut dan juga beliau ikut mengantar sampai ke kuburan.
Tak berhenti di situ, Rasulullah SAW bahkan juga menyempatkan waktu untuk singgah ke rumah keluarga sahabat Nabi yang baru saja meninggal.
Rasulullah SAW datang dengan tujuan untuk menenangkan keluarga tersebut agar mereka mau bersabar dan menerima.
Hingga pada suatu ketika, Rasulullah SAW datang ke rumah seseorang yang baru meninggal, kemudian Rasulullah SAW bertanya kepada istri almarhum tersebut,
“Tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafat?”.
Baca Juga: Heboh Potret Pernikahan Sesama Jenis Celine Evangelista Viral di Media Sosial
“Saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal” jawab istri almarhum itu.
“Apa yang dikatakannya?” tanya Rasulullah SAW kembali.
“Saya tidak tahu, ya Rasulullah SAW, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum meninggal, atau hanya rintihan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Hanya saja, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong.”
“Bagaimana bunyinya?” tanya Rasulullah SAW.
“Suami saya mengatakan :Andaikata lebih jauh lagi. Andaikata yang masih baru. Andaikata semuanya….. Hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu diucapkan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?”
Baca Juga: Kabar Baik! Kota Tangerang Masuk PPKM Level 1, Berdasarkan Kasus Covid-19 yang Turun Drastis
Rasulullah SAW tersenyum dan berkata “Sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru”.
Diketahui, sebenarnya, kisah sahabat nabi yang meninggal tesebut seperti ini. Suatu waktu, ia sedang bergegas ke masjid untuk melaksanakan salat Jum’at.
Di tengah jalan, ia berjumpa dengan orang buta yang memiliki tujuan yang sama yaitu ke masjid.
Kamudian, orang buta itu berjalan dengan tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Dengan begitu, sahabat nabi itulah yang membimbingnya hingga tiba di masjid.
Dan ketika hendak menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyaksikan pahala amal sholehnya itu. Kemudian ia berkata “Andaikan lebih jauh lagi”, maksudnya, andai kata jalan ke masjid itu lebih jauh lagi, pasti pahalanya lebih besar lagi.
“Ucapan lainnya ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri yang masih mendengarkan Nabi. Nabi menjawab,
Baca Juga: Jadi Juru Selamat di Tengah Pandemi, Aplikasi Ini Jadi Harapan Para Pelaku UMKM
“Adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, ketika ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca sangat dingin sekali. Di tepi jalan, ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, : Andaikata yang masih baru kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi”
“Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah SAW?” tanya sang istri itu kembali.
“Ingatkah engkau pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur daging. Namun, ketika hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan menghembuskan nafas terakhirnya, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karena itu, ia menyesal dan berkata: Kalau aku tahu begini hasilnya, musafir itu tidak hanya kuberi separuh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti pahalaku akan berlipat ganda,”.
Kisah di atas, menggambarkan bagaimana ketika kita berbuat baik, sejatinya kita akan mendapatkan kebaikan juga. Karena segala sesuatu tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk, maka kelak kita juga akan mendapatkan keburukan juga.
Baca Juga: Jadi Juru Selamat di Tengah Pandemi, Aplikasi Ini Jadi Harapan Para Pelaku UMKM
“Kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula.” (QS.Al Isra’: 7). Wallahu A’lam Bishawab.
(Dari Berbagai Sumber)










Leave a Reply