Jabodetabek.id – Contoh tentang metode pendidikan yang baik dan benar sebenarnya telah diberikan oleh Nabi Muhammad SAW. Seperti dijelaskan oleh Ustadz Najmi Fathoni, Kepada wartawan.
Najmi mengatakan bahwa tidak hanya berdasarkan teori tetapi juga dilengkapi dengan contoh dan perbuatan cara Rasulullah mendidik keluarga, sahabat dan kaumnya.
Hal tersebut juga dilakukan dengan melihat berbagai aspek, sehingga seluruh informasi dan ilmu yang diberikan dapat diterima baik oleh kaumnya.
Baca Juga: Bentuk Rasa Syukur dan penghormatan, Amalkan 10 Selawat Maulid Nabi Muhammad SAW
Contoh kecilnya, ketika bertemu dengan murid maupun sahabat yang memiliki latar belakang berbeda, Nabi Muhammad SAW selalu menyusaikan pola komunikasinya.
“Ketika Nabi Muhammad berbicara dengan seorang budak, Bilal misalkan, bahasanya akan sangat berbeda ketika dia berhadapan sengan Umar bin Khattab, beda juga dengan Abu Bakar, atau Utsman bin Affan yang dikenal melankolis,” terang Ustadz Najmi Fathoni.
Lebih lanjut, Najmi mengatakan, ketika ada orang miskin yang datang kepada Rasulullah dan bertanya, ‘Amal apakah yang harus ku lakukan?’, Nabi menjawab beramal lah dengan dengan tenagamu.
“Kalau org miskin disuruh beramal dengan harta, bisa stres lah dia. Sementara orang kaya, rasulullah berpesan untuk beramal dengan mal atau harta mereka. Jadi disesuaikan dengan kemampuan mereka masing-masing,” tambahnya.
Baca Juga: Pemerintah Geser Libur Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Penjelasannya
Salah satu metode pengajaran Nabi Muhammad SAW selalu dimulai dengan bahasa yang mudah dan dimengerti oleh kaumnya hal tersebut bisa ditarik kesimpulan dari contoh di atas.
Sehingga sang murid tidak ada yang menolah dan bisa menerima semua ajaran yang disampaikan.
Sementara untuk sistem pengajarannya sendiri, sejak zaman dahulu, Rasulullah selalu menerapkan sistem halaqha, zaman sekarang bisa diibaratkan seperti pesantren.
Pertama kali Nabi Muhammad SAW berdakwah di Mekkah kala itu ia melakukan secara sembunyi-sembunyi di rumah Ibnu Al Arkom.
Rasulullah tetap mengajarkan muridnya dengan sepenuh hati meski jumlah mereka masih bisa dihitung dengan jari yakni, 7 orang sahabat.
“Sahabatnya waktu itu diajarkan satu-satu cara membaca Al Quran, dan langsung dicontohkan. Kalau mengajarkan sesuatu yang kita tidak lakukan tentu orang yang diajar tidak akan percaya. Pola pendidikan inilah yang dilakukan oleh Rasulullah,” jelas Najmi.
Di samping itu, Najmi menjelaskan bahwa melalui medium kiasan-kiasan atau kisah-kisah nabi terdahulu Rasulullah juga selalu mengajar dengan pola menggembirakan.
Itulah sebabnya sekarang banyak guru yang mengajarkan murid-muridnya melalui dongeng.
“Beliau itu mengajar tidak pernah menakutkan dan tidak menggurui, tapi langsung terlibat. Sehingga terjadi kesetaraan antara yang mengajar dan diaja. Jadi mereka sama-sama belajar dan mengamalkan,” kata Najmi.
Terkadang para guru zaman sekarang melupakan nilai-nilai ini, sebab sudah terlalu banyak dibebani oleh mata pelajaran yang dipaksa untuk segera diajarkan kepada murid membuat mereka seolah kehilangan arah.
Maka tak heran bila akhir-akhir ini banyak anak yang mulai berani melawan guru karena mereka lupa memberikan contoh sehingga tidak ada keteladanan dari gurunya sendiri.
“Maka yang ingin saya tekankan disini, pendidikan ala Rasulullah adalah pendidikan penuh keteladanan,” tutup Ustadz Najmi Fathoni. (Dari Berbagai Sumber).













Leave a Reply