
Jabodetabek.Id – Kemacetan di area Pelabuhan Ketapang dan Gilimanuk selama beberapa hari terakhir tengah menjadi sorotan.
Sejumlah unggahan keluhan warga viral di media sosial yang harus melewati momen kemacetan dan antre menyeberang.
Dalam narasi yang beredar, masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk bisa melakukan penyeberangan di Selat Bali.
Salah satunya dikeluhkan oleh warganet dengan mengunggah video di Instagram lewat akun @diahrara91.
“Berangkat pukul 22.00 WIB, baru tiba sekitar 04.00 WITA, 5 jam perjalanan yang lebih banyak diisi dengan menunggu,” tulis unggahan keterangan unggahan @diahrara91 pada Kamis, 25 Juni 2026.
Macet dan Harus Menunggu Penyeberangan
Dalam video tersebut, ia juga menunjukkan bahwa kemacetan sudah terjadi sejak di luar area pelabuhan.
“Macet, macet, dan macet di Pelabuhan Ketapang. Entah ini pelabuhan atau parkiran terbesar di Indonesia, karena yang berjalan bukan kendaraan, tapi jarum jam,” ucap pemilik akun.
Ia mengatakan bahwa calon penumpang yang akan menyeberang harus bersabar karena waktu menunggu yang cukup lama.
“Harusnya keberangkatan cuma satu jam, saya berada di pelabuhan sampai 5 jam,” ungkapnya.
“Ketapang hari ini seolah berkata kalau tujuanmu hanya untuk menyeberang, bawa juga kesabaran. Saran buat yang mau ke Ketapang, jangan cuma bawa bensin, bawa juga kesabaran,” imbuhnya.
Tak hanya itu, pemilik akun juga mengingatkan untuk membawa bekal secukupnya sembari menunggu kendaraan masuk ke kapal.
Pelabuhan Gilimanuk Padat dan Antrean Panjang
Serupa dengan kondisi di Pelabuhan Ketapang, Pelabuhan Gilimanuk juga mengalami kepadatan antrean kendaraan.
“Terpantau situasi di Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk sangat padat hingga menimbulkan antrean yang cukup panjang,” ujar perekam video yang diunggah di akun Instagram @balisanbus pada Kamis, 25 Juni 2026.
Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan di kantong-kantong parkir Pelabuhan Gilimanuk.
“Ini tentu mengakibatkan keterlambatan, baik dari waktu tempuh maupun pemberangkatannya,” sambungnya.
Momen Macet yang Selalu Berulang
Sementara itu, akun Instagram @soniaasha_ turut mengeluhkan kemacetan di Ketapang yang menurutnya selalu terjadi setiap tahunnya.
“Festival tahunan Ketapang sama dengan kemacetan. Awalnya hanya setahun dua kali, menjadi 3 kali, hingga kini tidak bisa diprediksi,” tulisnya dalam keterangan video, dikutip pada Jumat, 26 Juni 2026.
“Jarak terjadinya macet dari satu waktu ke waktu lain sangat dekat,” lanjutnya.
Ia lantas berharap bahwa ada perbaikan kebijakan dari pemerintah agar bisa mengatasi kemacetan yang berulang kali terjadi.
“Pengaturan teknis di jalan dengan menurunkan Dishub, Polisi, TNI memang membantu saat macet terjadi. Tapi jika pembuat kebijakan di atas sana mendiamkan kasus ini terus menerus, saya yakin 10 tahun lagi, pasti tetap terjadi macet, macet dan macet,” jelasnya.
“Jarak macet benar-benar tidak karuan, kadang satu arah 5-10 kilometer, kadang dua arah. Semrawut dan tidak karuan,” sambungnya.
ASDP: Ada Peningkatan Volume Kendaraan hingga Periode Liburan
Sebelumnya, Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) Heru Widodo mengungkapan bahwa ada lonjakan volume kendaraan yang terjadi sejak Minggu, 21 Juni 2026.
Roda empat pribadi bahkan naik hingga 30 persen dari hari biasanya.
Selain faktor lonjakan, ada faktor cuaca yang turut mempengaruhi proses bongkar muat kapal demi menjaga keselamatan.
“Kami memahami tingginya kebutuhan mobilitas masyarakat selama periode libur sekolah sekaligus ketidaknyamanan yang ditimbulkan akibat kepadatan di Pelabuhan Ketapang. Untuk itu, kami menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pengguna jasa atas kondisi yang terjadi,” ujar Heru dalam keterangannya pada Kamis, 25 Juni 2026.
“ASDP bersama regulator dan seluruh pemangku kepentingan terus bekerja keras mengerahkan seluruh sumber daya yang tersedia guna mempercepat normalisasi layanan dan memastikan arus penyeberangan tetap berjalan optimal,” tambahnya.
Pihak ASDP juga telah mengoptimalkan penggunaan fasilitas pelabuhan dan armada yang tersedia untuk penyeberangan.










Leave a Reply