Jabodetabek.id

"Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoaks"

Hanya dalam 3 Bulan, Ada Misteri Kematian 3 Dokter yang Kini Hebohkan Jagat Medsos dengan Isu Bullying di Baliknya

Menyoroti fakta di balik viralnya dugaan perundungan yang dialami dr Adrian Rantung yang masuk daftar skandal kematian tenaga kesehatan di Indonesia.
Menyoroti fakta di balik viralnya dugaan perundungan yang dialami dr Adrian Rantung yang masuk daftar skandal kematian tenaga kesehatan di Indonesia. (Foto: Dok Istimewa)

Jabodetabek.Id – Linimasa media sosial, tengah diselimuti duka mendalam atas kabar wafatnya seorang dokter asal Manado, dr. Adrian Rantung yang menjadi peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS).

Sebelumnya, mahasiswa yang sempat menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Anestesiologi di Universitas Sam Ratulangi (Unstrat) itu ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di kamar kosnya, Manado, pada Minggu, 5 Juli 2026.

Diduga kuat, korban mengakhiri hidupnya akibat tekanan pekerjaan hingga perundungan atau bullying sistemis di lingkungan pendidikan yang pernah ditempuhnya.

Atas kasus ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah memerintahkan penghentian total aktivitas program studi terkait di RSUP Kandou.

Jejak Baru Skandal Perundungan Dokter

Juru Bicara Kemenkes, Widyawati menegaskan hingga saat ini, proses pemeriksaan atas kasus tersebut masih berjalan maraton.

Widyawati mengklaim, sanksi penghentian operasional ini hanya menyasar pada aktivitas praktik pendidikan di dalam RSUP Kandou, bukan membekukan program studi (prodi) Anestesiologi secara keseluruhan.

“Sementara investigasi itu berjalan, kegiatan pendidikan prodi anestesi di RS Kandou dihentikan sementara,” kata Widyawati dalam keterangan resminya, pada Rabu, 8 Juli 2026.

“Yang dihentikan hanya kegiatan pendidikannya, bukan prodinya. Aktivitas PPDS di RS Kandou akan dibuka kembali setelah ada hasil investigasi tim terhadap kasus tersebut,” sambungnya.

Tim investigasi Kemenkes juga telah memfokuskan penelusuran pada sejumlah aspek, di antaranya terkait data operasional jam kerja korban, rekam jejak digital, hingga dugaan perundungan oleh konsulen atau dokter spesialis senior.

Berkaca dari skandal wafatnya dr. Adrian Rantung, publik seolah kembali diingatkan dengan sejumlah kasus serupa yang terbilang kelam bagi para tenaga kesehatan (nakes) di Indonesia.

Terlebih, sejumlah kasus kematian seorang dokter akibat dugaan bullying juga pernah menghebohkan jagat media sosial, mari tilik daftar kasusnya selama 3 bulan terakhir:

Juli 2026: Wafatnya dr. Adrian di Manado

Kasus terbaru, dialami dr. Adrian Rantung yang berasal dari Unsrat dan menjalani tugas pendidikan klinis di RSUP Kandou, yang ditemukan meninggal pada 5 Juli 2026.

Dalam kasus ini, Adrian diduga mengakhiri hidupnya di sebuah kamar kos wilayah Manado.

Sebagian publik menyoroti, kematian dr. Adrian ditengarai akibat tekanan pendidikan dan dugaan perundungan dari oknum senior atau konsulen.

Hal itu, kini berujung pada pembekuan total izin operasional PPDS Anestesiologi di RSUP Kandou oleh Kemenkes.

Juni 2026: Kasus Bullying dr. Icha di NTT

Bergeser ke bulan sebelumnya, publik juga pernah dihebohkan dengan kabar wafatnya dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni alias dr. Icha.

Dokter muda berusia 27 tahun itu sebelumnya bertugas di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), dan meninggal dunia pada Juni 2026.

Terkait investigasi kasus kematiannya, dr. Icha diduga mengalami depresi dan tekanan mental berat setelah mendapat intimidasi dan perundungan dari oknum pejabat saat bertugas di IGD RS Leona Kefamenanu, NTT.

Mei 2026: dr. Myta Alami Kelelahan Ekstrem

Pada Mei 2026, kasus serupa juga pernah menimpa dr. Myta Aprilia Azmy, dokter internship di RSUD KH Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.

Dokter asal Jambi itu diduga meninggal dunia diduga akibat dugaan kelelahan ekstrem saat bekerja di RSUD tersebut.

Kala itu, dr Myta dilaporkan bertugas selama tiga bulan tanpa libur dan terdapat dugaan tekanan seniornya hingga akhirnya kondisi kesehatannya menurun drastis.

Pada akhirnya, deretan kasus kematian dokter dalam 3 bulan terakhir itu, telah menambah daftar kelam mengenai bobroknya budaya feodalisme atau perundungan, dalam pendidikan kedokteran spesialis di Indonesia sepanjang tahun 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *