Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Ditutupnya USAID Oleh Trump Berdampak Bagi Indonesia, Kanada Buka Peluang Kerja Sama

Pertemuan USAID Indonesia dengan Menteri Bappenas pada Januari 2025 lalu.
Pertemuan USAID Indonesia dengan Menteri Bappenas pada Januari 2025 lalu. (Foto: instagram.com/usaidindonesia)

Jabodetabek.Id – Presiden Amerika Serikat terbaru, Donald Trump, berencana menutup United States Agency for International Development (USAID). 

Keputusan ini dinilai dapat membawa dampak besar bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Setelah dilantik, Trump menginstruksikan penghentian sementara seluruh bantuan luar negeri AS. 

Ia menilai bahwa USAID hanya menghabiskan anggaran negara tanpa memberikan manfaat langsung bagi warga Amerika.

Mengutip laman ForeignAssistance.gov, pada tahun 2024 USAID telah menyalurkan bantuan sebesar USD 153,5 juta (Rp2,4 triliun) ke Indonesia, mencakup berbagai sektor, salah satunya pendidikan.

Dampak Penutupan USAID terhadap Indonesia

Menanggapi rencana ini, Pakar Hukum Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya), Satria Unggul Wicaksana Prakasa, menilai bahwa penutupan USAID akan berdampak negatif bagi negara-negara mitra, termasuk Indonesia.

Menurut Satria, USAID memiliki rekam jejak panjang dalam memberikan bantuan di berbagai bidang, termasuk kesehatan, pendidikan, riset, hingga program antikorupsi. 

Ia menegaskan bahwa penghentian bantuan ini dapat menghambat penyelesaian berbagai permasalahan sosial di Indonesia.

“Artinya ketika berbicara tidak lagi ada bantuan dari Donald Trump, ini sebenarnya menjadi problem, menjadi persoalan yang mengurangi intensitas atau strategi di dalam mengatasi problem-problem sosial lainnya,” ujarnya dalam laman UM Surabaya, dikutip Minggu 16 Februari 2025.

Dorongan Mencari Sumber Pendanaan Alternatif

Satria menyarankan agar pemerintah Indonesia segera mencari sumber pendanaan lain untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan USAID. 

Ia menekankan bahwa meskipun kebijakan ini merupakan keputusan yang harus dihormati, kontribusi USAID selama ini telah memberikan dampak positif di berbagai sektor.

“Kemudian di pendidikan, termasuk riset dan penegakan hukum di dalam banyak skema dengan mitra-mitra strategis yang dimilikinya. Ketika kemudian bantuan ini dicabut, tentu ini akan mengurangi strategi kita di dalam mengatasi problem-problem yang menghambat Indonesia untuk maju,” tuturnya.

Namun, Satria juga mengingatkan bahwa tidak semua bantuan luar negeri selalu membawa dampak positif. 

Ia mencontohkan bagaimana bantuan dari pemerintah Norwegia dalam isu deforestasi justru menghambat perkembangan sains di Indonesia.

Di sisi lain, ia mengakui bahwa program-program USAID seperti USAID PEER (Partnerships for Enhanced Engagement in Research) dan USAID Integritas telah memberikan kontribusi besar dalam mendukung riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia.

“Dan banyak skema yang USAID berikan itu sebenarnya cukup banyak membantu periset atau lembaga-lembaga kampus untuk mendorong temuan-temuan. Dan tentu ditindaklanjuti dalam aktivitas yang bersifat programatik,” imbuhnya.

Kanada Siap Menggantikan Peran USAID

Di tengah kekhawatiran atas dampak penghentian bantuan USAID, Kanada menyatakan kesiapan untuk menjadi mitra terbesar bagi Indonesia dan ASEAN dalam sektor pembangunan internasional.

Menteri Pembangunan Internasional Kanada, Ahmed Hussen, menegaskan bahwa pemerintah Kanada akan terus memantau kebijakan Trump terkait penutupan USAID.

“Kami memantau situasi itu. Jadi, tentu saja kami siap untuk melihat apa yang dihasilkan dari proses ini,” ujar Hussen saat ditanya apakah Kanada akan mengambil peran sebagai mitra bantuan terbesar bagi Indonesia dan ASEAN.

Ia juga menekankan bahwa Kanada selalu terbuka untuk berkomunikasi dengan negara mitra terkait dana pembangunan internasional.

“Kami selalu siap dan terbuka untuk berbicara dengan mitra yang berpikiran sama untuk selalu menemukan cara memanfaatkan dana pembangunan internasional kami untuk bekerja sama dengan pihak lain guna meningkatkan dampak dan meningkatkan efektivitas bantuan kami,” ujarnya.

Hussen menegaskan bahwa USAID merupakan lembaga donor penting bagi banyak negara, termasuk Kanada. 

Ia menyoroti bahwa banyak proyek Kanada di berbagai negara bermitra dengan USAID sebagai salah satu pemain kunci dalam bantuan internasional.

“Kami berharap jeda ini tak menyebabkan penghentian permanen bantuan AS,” ungkap Hussen.

USAID dan Efisiensi Anggaran Trump

Anggaran yang digelontorkan USAID tergolong signifikan, yakni lebih dari USD 40 miliar.

Namun, Hussen mengakui bahwa jumlah tersebut bukan sesuatu yang bisa dipenuhi Kanada dengan mudah.

USAID selama ini telah menyalurkan miliaran dolar ke berbagai organisasi dan lembaga untuk mendukung proyek di seluruh dunia, mulai dari pendidikan, kesehatan, keamanan, demokrasi, bantuan kemanusiaan, hingga pengentasan kemiskinan.

Badan ini juga berperan dalam membantu 130 negara, terutama negara-negara miskin dan mereka yang rentan terhadap konflik.

Sementara itu, Trump sebelumnya telah mengungkapkan rencana untuk menutup USAID serta memangkas seluruh stafnya sebagai bagian dari efisiensi anggaran. Presiden dari Partai Republik ini menganggap bahwa USAID hanya menghamburkan dan menyalahgunakan dana negara.

Selain itu, Trump juga dikenal sering mengkritik USAID. Ia bahkan sempat mencap para pekerja USAID sebagai kelompok yang “radikal.”

Keputusan ini masih dalam tahap peninjauan, tetapi jika benar-benar direalisasikan, banyak negara mitra, termasuk Indonesia, harus segera menyiapkan strategi alternatif untuk menggantikan peran USAID.

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *