Jabodetabek.id

"Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoaks"

Di Balik Kasus Dokter PPDS Manado yang Ditemukan Tak Bernyawa, Ada Dugaan Chat Kepanikan Rekannya saat Jadwal Jaga

Menyoroti kabar wafatnya Dokter PPDS di Manado, dr. Adrian Rantung yang menuai sorotan di media sosial terkait dugaan perundungan.
Menyoroti kabar wafatnya Dokter PPDS di Manado, dr. Adrian Rantung yang menuai sorotan di media sosial terkait dugaan perundungan. (Foto: Threads.com/@divertikulitizz))

Jabodetabek.Id – Sebagian publik di media sosial, tengah ramai menyoroti kabar wafatnya dr. Adrian Rantung yang merupakan seorang dokter Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Manado, Sulawesi Utara.

Sebelumnya diketahui, Adrian merupakan dokter peserta aktif PPDS Anestesiologi Fakultas Kedokteran di Universitas Sam Ratulangi (Unstrat), yang menjalani pendidikan klinis di RSUP Kandou Manado.

Hal yang memicu sorotan, beredar dugaan sang dokter mengakhiri hidupnya di sebuah kamar kos, setelah tak kuat dengan tekanan pekerjaan hingga perundungan yang dialaminya.

Dalam kasus ini, Dokter PPDS Manado itu sempat ditemukan meninggal dunia usai rekannya sempat mengecek keberadaannya di kamar kos, Manado, pada Minggu, 5 Juli 2026.

Sempat Dicari saat Jadwal Jaga di RSUP Kandou

Peristiwa bermula ketika Adrian dijadwalkan menjalani tugas jaga di RSUP Kandou.

Pada hari pelaksanaan tugas tersebut, ia diketahui tidak hadir sebagaimana mestinya dan juga tidak dapat dihubungi oleh rekan-rekan sejawatnya.

Kondisi itu menimbulkan kekhawatiran karena ketidakhadiran tanpa kabar bukan merupakan hal yang lazim dalam pelaksanaan tugas pelayanan rumah sakit.

Setelah berbagai upaya menghubungi tidak membuahkan hasil, sejumlah rekan sejawat kemudian memutuskan untuk mendatangi tempat tinggal dr. Adrian di sebuah rumah kos di Kota Manado guna memastikan keadaannya.

Dalam utas akun X @BilBils, pada Rabu, 8 Juli 2026, terlihat sebuah chat yang menunjukkan kepanikan rekan Adrian di lokasi kejadian.

“Jadi kejadiannya, beliau seharusnya ada jadwal jaga Minggu pagi, namun karena tak datang, dicek ke kosannya,” tulis sebuah pesan dari hasil tangkapan layar direct message (DM) dalam postingan tersebut.

Pintu Tak Dibuka, Ternyata Korban Sudah Tiada

Sesampainya di lokasi, rekan-rekan sejawat menemukan dr. Adrian telah meninggal dunia di dalam kamar kosnya.

“Diketok nggak dibukain, ternyata sudah tiada,” demikian tertulis dalam unggahan chat yang sama.

Penemuan tersebut segera dilaporkan kepada pihak berwenang untuk dilakukan penanganan sesuai prosedur.

Dugaan chat kepanikan rekannya itu lantas viral di media sosial, usai Dokter PPDS di Manado itu dikabarkan meninggal dunia karena diduga menjadi korban perundungan.

Tak ayal, isu ini viral hingga menimbulkan tuntutan bagi pihak terkait untuk menindaklanjuti kasus dugaan perundungan pada Dokter PPDS di Manado tersebut.

Setelah viralnya kasus itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) kini telah angkat bicara.

Akankah Kasus Ini Diusut Tuntas?

Secara terpisah, Juru Bicara Kemenkes, Widyawati menegaskan proses penyelidikan masih berlangsung.

Widyawati menyebut, belum ada kesimpulan resmi mengenai penyebab kematian maupun dugaan yang berkembang di masyarakat.

Kemenkes juga diketahui telah menghentikan sementara kegiatan pendidikan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado.

“Penjelasan isu kematian dokter PPDS di RS Kandou Manado, kasus ini masih dalam proses investigasi,” kata Widyawati dikutip dalam keterangannya, pada Rabu, 8 Juli 2026.

“(Hal tersebut) oleh tim gabungan Kemenkes, Konsil Kedokteran Indonesia, Kolegium Anestesi dan Kemendiktisaintek,” tambahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *