
Jabodetabek.id – Geng bersenjata yang sebelumnya telah menculik 17 anggota kelompok misionaris Amerika Serikat (AS) di Haiti minggu lalu kini telah menemukan titik terang.
Tapi sayangnya, para penculik ini menuntut tebusan sebesar USD17 juta (sekira Rp240 miliar), atau USD1 juta (sekira Rp14 miliar) untuk masing-masing sandera atas pembebasan mereka, kata Menteri Kehakiman Haiti kepada media AS.
Menteri Kehakiman Haiti Liszt Simply pada Selasa (19/10) mengatakan sudah selama akhir pekan, para penculik menghubungi Christian Aid Ministries.
Baca juga : Saudara Kembar PSK Tertua di Amsterdam, Layani Lebih dari 335.000 Klien Seumur Hidupnya
Di mana mereka adalah sebuah kelompok misionaris yang berbasis di Ohio, AS, yang anggotanya diculik, dan menuntut uang tebusan.
Menurut Simply, kelompok misionaris itu telah melakukan kontak dengan geng itu dan sejak saat itu ada beberapa panggilan telepon telah dilakukan.
Dia juga mengatakan jika negosiator polisi setempat dan agen FBI menasihati kelompok itu tentang bagaimana melanjutkan, tapi tidak memberikan rincian tentang kemajuan pembicaraan.
Baca juga : Salim Abd Al-Karim Hasarma, Korban Ke-100 yang Ditembak Mati Israel
Agen FBI berada di Haiti, menambahkan jika mereka tidak memimpin negosiasi dan tidak berbicara langsung dengan geng tersebut.
“FBI adalah bagian dari upaya pemerintah AS yang terkoordinasi untuk membawa warga AS yang terlibat ke tempat yang aman,” kata juru bicara FBI kepada CNN.
Dan juga menambahkan jika “karena pertimbangan operasional, tidak ada informasi lebih lanjut yang tersedia saat ini.”
Geng yang diidentifikasi sebagai 400 Mawozo, menuntut USD17 juta untuk pembebasan semua sandera.
Para misionaris dan keluarga mereka diculik Sabtu (16/10) lalu mereka mereka sedang dalam perjalanan dengan bus tidak jauh dari ibu kota Haiti, Port-au-Prince. Dari beberapa laporan media yang ada mereka mengunjungi panti asuhan.
Dan di antara penculikan tersebut ada tiga anak kecil.
Pada Selasa, Wall Street Journal melaporkan jika kelompok itu termasuk anak-anak berusia tiga, enam, 14 dan 15 tahun, serta bayi berusia delapan bulan.
Menurut sang menteri, para sandera ditahan di suatu tempat di luar Croix-des-Bouquets, pinggiran ibu kota yang dikendalikan oleh geng.
“Para penculik telah diperingatkan tentang melukai para sandera dan apa konsekuensinya bagi mereka jika itu terjadi. Tapi mereka tidak terpengaruh oleh peringatan itu,” jelas Simply, dilansir RT.
Insiden itu adalah salah satu penculikan paling parah dalam beberapa tahun terakhir.
Meskipun penculikan baru-baru ini menjadi semakin umum di negara itu, yang telah dilanda kekacauan selama bertahun-tahun.
Yang sebelumnya, Presidennya, Jovenel Moïse, dibunuh di kediamannya pada Juli, di tengah situasi ekonomi yang terus memburuk, dan gempa bumi lain melanda Haiti pada Agustus. (Dari berbagai sumber).










Leave a Reply