Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Jadi Juru Selamat di Tengah Pandemi, Aplikasi Ini Jadi Harapan Para Pelaku UMKM

Jadi Juru Selama di Tengah Pandemi, Aplikasi Ini Jadi Harapan Para Pelaku UMKM
Jadi Juru Selama di Tengah Pandemi, Aplikasi Ini Jadi Harapan Para Pelaku UMKM (Foto: Dok Net/ Istimewa)

Jabodetabek.id – Pandemi Covid-19 membuat usaha di berbagai sektor mengalami penurunan, tak terkecuali pariwisata.

Meski begitu, rupanya dengan adanya digitalisasi saat ini telah menjadi juru selamat bagi pekerja sektor pariwisata di Bali yang terdampak pandemi Covid-19.

Sebagamana diketahui saat ini pariwisata belum pulih dan masih tertatih-tatih, namun akhirnya pelaku pariwisata mulai dapat mendapat harapan dengan usaha yang dipasarkan secara digital.

Salah Satunya yang dilakukan Sarah Padmajaya. Seorang owner Raia Bali ini menceritakan usaha penjualan oleh-oleh berupa kue brownies, cookies dan dessert jars menggunakan pemasaran daring tetap kencang meskipun Pulau Dewata dihajar pandemi Covid-19.

Baca Juga: Firman Allah Terhadap Orang-orang yang Tidak Punya Akal dan Jadi Penghuni Neraka

Hal itu terjadi karena dia menggunakan medium pemasaran daring seperti Gofood, dan sosial media lainnya. Pembelinya juga datang dari berbagai wilayah, tidak hanya di Bali saja.

“Ada peningkatan meskipun saat pandemi. Puji Tuhan sekali,” tuturnya saat dihubungi Bisnis, Jumat (29/10/2021).

Dengan ada hal tersebut, ia pun merasa bersyukur meskipun ada pandemi. Bahkan Sarah mengaku tidak menyangka usaha yang awalnya iseng tersebut kini semakin membesar seiring mulai dikenalnya produk yang dihasilkan.

Karyawannya pun kini sudah menjadi 5 orang. Padahal, awalnya Sarah merupakan marketing communication di salah satu hotel bintang lima terkenal di daerah Ubud.

Pekerjaan di industri hospitality yang sudah digeluti selama 7 tahun itu pun dia tinggalkan beberapa bulan sebelum pandemi merebak di Pulau Dewata.

Baca Juga: Canggih Parah! Avanza Baru Bawa Kejutan, Ternyata Bisa Lakukan Hal Ini

Meskipun sempat khawatir di awal-awal pandemi, keberadaan aplikasi pemesanan daring hingga media sosial terbukti membalikkan kekhawatiran tersebut. Menurutnya, berkat digitalisasi, pandemi dipandang sebagai peluang besar.

Adanya aplikasi seperti Gojek serta media sosial ikut mendongkrak penjualan produknya. Dia mengaku banyak pembelinya memesan menggunakan aplikasi maupun media sosial.

Sarah mengatakan sempat bergabung dengan Gojek pada 2020 dan tetapi karena alamat pindah akhirnya baru kembali pada 2021.

Dia menegaskan meski ada aplikasi dan kemudahan, kunci utama adalah konsistensi dan focus serta inovatif.

Baca Juga: Mobil Listrik Gagah dengan Bentuk Futuristik Diperkenalkan Toyota

“Biasanya yang ingin cepat pesan itu lewat aplikasi seperti Gojek karena mereka tidak mau lama,” tuturnya.

Pengalaman diuntungkan digitalisasi juga dialami oleh Riena Ramlan pemilik Martabak Terang Bulan 21 di daerah Denpasar. Wanita yang dulu berprofesi sebagai konsultan sales e-commerce perhotelan ini sempat kebingungan ketika pandemi merebak di Bali awal 2020.

Kegundahan itu kemudian mendapatkan solusinya ketika dia memutuskan memulai usaha kuliner menggunakan aplikasi Gojek. Saat ini, penjualan terbesarnya dari jalur daring sebesar 70 persen sedangkan sisanya dari luring.

Bahkan, rencananya akan menambah lagi satu gerobak untuk meningkatkan penjualan. Diakuinya keberadaan aplikasi seperti Gofood memudahkan pihaknya dalam berusaha dan membantu perekonomian keluarga yang selama ini mengandalkan pariwisata.

“Tidak pernah terbayangkan akan berbisnis. Beruntung ketika pandemi sudah ada aplikasi, kami bisa buka usaha kuliner juga,” tuturnya.

Baca Juga: Yasonna Sapa Jajaran Kemenkumham Dari Sabang Hingga Los Angeles

Pelaku usaha seperti Riena hanya salah satu dari banyak pekerja hotel dan restoran di Bali yang kini tidak lagi menggantungkan dengan pariwisata. Digitalisasi kini telah menjadi penyelamat bagi masyarakat Bali.

Keberadaan aplikasi pengantaran hingga loka pasar virtual sangat membantu perekonomian saat ada pandemi, karena susahnya mendapatkan pekerjaan di sektor pariwisata.

Bali selama ini sangat bergantung dengan industri pariwisata. Kontribusi sektor tersier ini diyakini lebih dari 60 persen dari total produk domestic regional bruto (PDRB) Pulau Dewata. Ketika pandemi merebak, industri pariwisata juga tersengat.

Ini terjadi karena Bandara International I Gusti Ngurah Rai yang biasanya menjadi pintu masuk 90 persen wisatawan mancanegara dan domestik ke daerah ini tidak dapat lagi bebas mulai awal 2020.

Baca Juga: Pegawai-Petugas Damkar Luka-Luka Sebab Kebakaran di Toko Bangunan, Tangsel

Saat kondisi normal, bandara ini dilintasi sekitar 15.000-20.000 orang wisatawan asing. Situasi tersebut membuat industri pariwisata terpukul. Pekerja pariwisata pun terseret dampaknya.

Data dari Dinas Tenaga Kerja dan ESDM Bali, pada Januari 2021, sebanyak 77.871 orang tenaga kerja dari 1.249 perusahaan dirumahkan. Angka ini meningkat jika dibandingkan pada Oktober 2020 yang tercatat sebanyak 77.307 orang.

Jumlah tersebut belum termasuk tenaga kerja yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK) sebanyak 3.085 pekerja dari 148 perusahaan. BPS Bali mencatat, jumlah pengangguran per 2020 melonjak hingga 5,63 persen.

Adapun pada 2019, tingkat pengangguran terbuka di destinasi berpenduduk 4,4 juta jiwa ini hanya 1,53 persen atau sekitar 37.500 orang. Situasi inilah yang mendorong mantan pekerja sektor pariwisata memutar otak dan akhirnya bergabung dengan aplikasi.

Baca Juga: Ketua Komnas Anak: Kasus SPI Kabur, Simpang Siur dan Diduga ‘Masuk Angin’

Kemudahan serta efektifitas dan tidak membutuhkan modal tinggi menjadi alasan mereka.

Tidak heran dari pelaku usaha baru seperti Riena memutuskan ikut berjibaku memutar perekonomian keluarga melalui aplikasi tersebut.

Co Founder dan CEO Gojek Kevin Aluwi mengakui pada 2020, jumlah mitra baru yang bergabung di aplikasi Gofood bertambah hingga 250.000.

Dari jumlah tersebut 43 persen diantaranya merupakan wirausaha baru yang terjun dalam usaha bisnis khususnya kuliner.

Bahkan, setelah mereka bergabung ternyata omsetnya meningkat hingga 7 kali lipat selama pandemi.

“Kita percaya bisnis penjualan online potensial bahkan dalam kondisi ekonomi sulit. Kehadiran GoFood tidak hanya mempermudah pengusaha pemula go-online tetapi juga mendukung pertumbuhan usahanya. Data internal perusahaan menunjukkan pendapatan rata-rata bulanan mitra usaha yang baru bergabung ke GoFood pada kuartal dua tahun 2020 tercatat meningkat hingga 7x lipat,” tuturnya dikutip dari temu media secara virtual.

Baca Juga: Mobil Listrik Gagah dengan Bentuk Futuristik Diperkenalkan Toyota

Tidak disebutkan penyebab peningkatan tersebut. Hanya ditegaskan untuk membantu pelaku usaha. Gojek mengeluarkan salah satu inovasi yang digemari masyarakat adalah fitur Gofood plus dan order Sekaligus yang terbukti membuat pelanggan semakin setia.

Selain karena fitur tersebut, faktor yang ikut membantu pelaku usaha khususnya di Bali adalah adanya perubahan preferensi konsumen.

Masyarakat lebih memilih menggunakan aplikasi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari termasuk dalam hal berusaha.

Pandemi telah mendorong pemanfaatan platform online oleh pelaku usaha, hal ini tercermin dari peningkatan jumlah penjual yang berlokasi di Bali pada platform online.

Baca Juga: Pada 3 November Mendatang, The Most Disrupting 5G Flagship Killer Siap Diluncurkan realme di Pasar Indonesia

Perubahan ini mendorong peningkatan penggunaan transportasi sebagai jasa angkutan barang (termasuk pengantaran makanan) dibandingkan dengan jasa angkutan orang.

Berdasarkan hasil Quick Survey di BI Bali, perubahan preferensi itu berimplikasi terhadap meningkatnya pembayaran nontunai di masa pandemi karena dianggap lebih aman.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Bali Trisno Nugroho berujar digitalisasi yang dilakukan UMKM menjadi salah satu kunci pemulihan perekonomian daerah. Saat pariwisata mati suri, perekonomian daerah ini tercatat minus hingga 9 persen pada 2020 silam.

Oleh karena itu, digitalisasi akan meminimalisir risiko penyebaran virus, dan meningkatkan efisiensi serta memudahkan masyarakat dalam bertransaksi.

Baca Juga: Firman Allah Terhadap Orang-orang yang Tidak Punya Akal dan Jadi Penghuni Neraka

Dampak positif lebih besarnya lagi adalah bergeraknya perekonomian yang didorong oleh pelaku UMKM yang beradaptasi. Hal inilah yang diyakini akan dapat membantu perekonomian Bali menuju pemulihan.

Sektor UMKM merupakan salah satu tulang punggung perekonomian Bali. Dengan total sekitar 326.000 pelaku UMKM, digitalisasi diyakini akan sangat membantu.

“Teknologi digital mampu memperkuat resiliensi pelaku usaha di tengah pandemi,” ujarnya.

(Dari Berbagai Sumber)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *