
Jabodetabek.Id- Ketika bencana yang tak terduga terjadi di suatu tempat hingga menelan korban, pasti menggoreskan luka mendalam bagi setiap orang.
Terlebih, ketika ada penyesalan bagi keluarga yang selamat namun salah satu anggota keluarganya harus pergi untuk selamanya akibat bencana tersebut.
Seperti kisah memilukan yang terjadi pada warga daerah pesisir Kota Wajima, Jepang yang dilanda peristiwa banjir bandang, pada 21 September 2024 lalu.
Salah satu korbannya adalah seorang gadis remaja bernama Hanon Kiso (14) yang ditinggal neneknya saat dirinya sedang menjaga warung sendirian.
Neneknya bernama Etsuko (64) mengaku masih teringat teriakan cucunya melalui panggilan telepon saat bencana itu terjadi.
“Nenek! Nenek! Nenek!” teriak Kiso dalam panggilan telepon kepada neneknya yang kala itu sedang berbelanja di pasar.
Telepon itu hanya berlangsung selama satu menit, sebelum akhirnya membuat Etsuko panik bergegas menuju warung yang dijaga oleh Kiso.
Etsuko teringat gadis kecil yang menjadi cucu kesayangannya itu enggan meninggalkan warung karena khawatir akan ada pengunjung yang datang.
Sementara suaminya bernama Satoshi (63) yang juga adalah kakeknya Kiso, tengah berada di wilayah lain yang bekerja sebagai pengrajin.
“Kuharap dia masih hidup di suatu tempat, aku tidak menyerah sampai aku melihat wajahnya,” ujarnya kala itu.
Etsuko mulai meneteskan air mata ketika menceritakan peristiwa tragis yang menimpa cucunya kepada tim evakuasi di kawasan setempat.
Sebab, menurutnya Kiso adalah seseorang yang sederhana dan kerap mengutamakan orang lain daripada dirinya sendiri.
“Aku sempat bertanya-tanya apakah dia membiarkan orang lain pergi lebih dulu lagi, dan berharap tentang keselamatan dirinya sendiri,” ungkap Etsuko saat berupaya mencari keberadaan Kiso.
Seperti yang diutarakan Etsuko, sempat terlintas di pikirannya tindakan Kiso yang lebih mementingkan keselamatan orang lain saat bencana itu terjadi.
Etsuko juga teringat ketika cucunya sangat peduli terhadap pembeli warungnya hingga membuat mereka merasa nyaman.
Sebagai catatan, warung itu menjual makanan cepat saji seperti mie kuah dengan rumput laut kering dan sosis bakar untuk anak-anak.
“Saya akan melakukan apapun yang bisa saya lakukan untukmu,” kata Kiso kepada neneknya saat berjualan di warung itu.
“Saya akan mengurus mangkuk-mangkuk ini,” tutur Kiso dan meminta neneknya untuk istirahat.
Pada 1 Oktober 2024, tim evakuasi setempat mengungkap kabar telah menemukan jenazah seorang gadis di Laut Jepang, sekitar 40 kilometer dari Pantai Sakai, Wajima.
Selain itu, tim evakuasi juga melihat tulisan ‘Kiso’ pada seragam yang dikenakan jenazah tersebut.
Tim evakuasi menerima informasi pertama dari seorang nelayan yang mengaku melihat jenazah mengambang dengan kaos seragam hitam, dengan tinggi badan sekitar 150 centimeter.
Menerima kabar itu, sang nenek hanya bisa pasrah dan berterima kasih atas segala kebaikan Kiso terhadapnya.
“Aku seharusnya membawanya ke pasar bersamaku,” keluh Etsuko sambil melempar tersenyum kepada tim evakuasi yang memberi kabar keberadaan Kiso.















Leave a Reply