Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Ini Alasan Biadab Zonis Israel Lakukan Genosida di Gaza, Gencatan Senjata Penuh Jadi Harapan Terakhir Warga Sipil Palestina untuk Akhiri Derita

Potret Gaza Palestina dalam peta dunia.
Potret Gaza Palestina dalam peta dunia. (Foto: Unsplash.com / CHUTTERSNAP)

Jabodetabek.Id- Memasuki tahun kedua sejak serangan Hamas ke wilayah selatan Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, telah menjadi alasan klasik bagi militer Israel untuk melakukan genosida (pembantaian besar-besaran) terhadap warga sipil di Gaza, Palestina, hingga hari ini.

Pihak yang kini menjadi korban adalah warga sipil di Gaza, sebab militer Israel, IDF. tidak pandang bulu untuk menghabisi nyawa mereka.

Warga sipil yang tak bersalah itu, bahkan dianggap militer Israel sebagai teroris yang berupaya menutupi informasi tentang pasukan Hamas.

Dikutip dari Al Jazeera, serangan Hamas terhadap Israel itu menewaskan 1.139 orang dan 250 orang ditangkap dan dibawa ke Jalur Gaza.

Sementara itu, Israel diklaim telah membunuh lebih dari 41.900 orang dalam genosida terhadap warga Palestina yang terjebak dalam ‘penjara besar’ di Gaza. 

Berikut ini kami rangkum kronologi peristiwa serangan Hamas ke Israel hingga upaya terkini terkait gencatan senjata penuh demi perdamaian kedua pihak.

Seputar Peristiwa 7 Oktober 2023

Kelompok bersenjata Palestina yang dipimpin sayap bersenjata Hamas, menyerang sejumlah kawasan di wilayah selatan Israel.

Kala itu, pejabat Israel menyoroti 250 orang ditawan, termasuk wanita, pria, anak-anak, dan orang tua.

Mereka menyebut di antara mereka ada 23 warga negara asing (WNA) yang bekerja atau belajar di Israel, yaitu Thailand, Nepal, dan Filipina.

Namun, dunia mulai merasa aneh dengan tudingan para pejabat Israel saat tidak ada satu pun WNA yang berasal dari negara yang disebutkan mereka saat Hamas mulai membebaskan para tawanan.

Saat itu, Hamas membebaskan 15 orang yang berasal dari Meksiko, Jerman, Argentina, Irlandia, Amerika Serikat, dan Afrika Selatan.

Menyikapi pembebasan sandera Hamas itu, Amerika Serikat (AS) sebagai sekutu Israel menyebut ada 12 warganya yang terdampak serangan 7 Oktober itu, dengan tujuh di antaranya masih ditawan hingga hari ini.

Sekutu Israel itu meyakini para tawanan telah dibawa ke berbagai lokasi di Jalur Gaza oleh para pejuang dari berbagai kelompok bersenjata di Palestina.

Dengan alasan tersebut, Israel membenarkan upaya mereka untuk melakukan serangan secara brutal ke warga sipil di Gaza, Palestina.

Empat Hari Pertama Gencatan Senjata

Pada tanggal 20-23 Oktober 2023, menjadi peristiwa gencatan senjata pertama antara Hamas dan Israel.

Saat itu, Hamas membebaskan 105 tawanan yang dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran tawanan yang dimediasi oleh pemerintah Qatar.

Sebagai imbalannya, Israel membebaskan sekitar 240 warga Palestina yang dipenjara, sebagian besar di antara mereka adalah anak-anak di bawah umur.

Namun, selama empat hari pertama gencatan senjata sementara itu, Israel menangkap lebih dari 130 warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang diduduki militer mereka.

Lantas, berapa banyak lagi tawanan Israel yang masih ditawan Hamas menurut laporan IDF?

Mereka yang ‘Dikira’ Masih Tertawan

Juru bicara militer Israel, Daniel Hagari, mengungkap sekitar 101 tawanan diyakini masih berada di Jalur Gaza.

Daniel menjelaskan, enam tawanan telah ditemukan tewas di kompleks terowongan Rafah pada tanggal 1 September 2024.

Selain itu, Daniel menyebut 30 tawanan itu kemungkinan tewas oleh pasukan Hamas.

Hal tersebut berdasarkan analisis laporan yang disampaikan juru bicara sayap militer Hamas, Brigade Qassam, pada tanggal 12 Agustus 2024.

Waktu itu, Qassam mengungkap pasukan Hamas telah membunuh seorang tawanan pria dan melukai dua tawanan wanita dalam insiden terpisah.

Lantas, sampai kapan ini genosida terhadap warga sipil di Gaza akan berakhir? Begini menurut keterangan terbaru Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Upaya Gencatan Senjata Demi Perdamaian

Netanyahu mengaku mengalami tekanan yang luar biasa dari para keluarga tawanan Israel yang tersisa di Gaza.

Mereka ingin perdana menteri Israel itu menerima gencatan senjata penuh yang diusulkan Hamas untuk membebaskan semua tahanannya, pada 10 Juni 2024 lalu.

Namun, Netanyahu bersikeras ingin Hamas membebaskan semua tahanannya terlebih dahulu agar gencatan senjata dapat dinegosiasikan pihaknya.

Selain itu, ada juga tekanan dari demonstrasi yang menuntut pembebasan para tawanan setiap minggu di kota-kota Israel.

Seorang demonstran yang juga merupakan warga negara Israel, Stephanie Dekker, bahkan mengaku kehilangan kepercayaannya terhadap pemerintahan sekutu AS itu.

“Sudah pasti, tidak bisa lagi kami percaya jika menyangkut pemerintahan ini (Israel),” ujarnya.

Hingga artikel ini terbit, belum ada tindakan responsif dari Netanyahu untuk menindaklanjuti usulan Hamas yang ingin membebaskan semua sandera mereka melalui gencatan senjata penuh.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *