Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Kontroversi di Balik Wafatnya 3 Calon Manajer Kopdes-KNMP: Pulang dalam Peti, Berujung Tindak ‘Evaluasi’

Menyoroti kontroversi di balik peristiwa wafatnya 3 calon manajer Kopdes-KNMP saat mengikuti program Latsarmil.
Menyoroti kontroversi di balik peristiwa wafatnya 3 calon manajer Kopdes-KNMP saat mengikuti program Latsarmil. (Foto: Instagram.com/@ussfeeds)

Jabodetabek.Id – Sebagian publik di media sosial sedang ramai menyoroti kabar duka yang datang dari 3 calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Sebelumnya diketahui, 3 orang peserta dikabarkan meninggal dunia saat mengikuti program pelatihan dasar militer (Latsarmil).

Korban terbaru bernama Novia Rahmadhani Sitohang, calon manajer KNMP yang sempat mengikuti Latsarmil di Satdik Pusbahasa Kodiklatau, Jakarta.

Novia sempat dilarikan ke Rumah Sakit Angkatan Udara Dr. Esnawan Antariksa, dan dinyatakan meninggal dunia pada Selasa, 23 Juni 2026.

Sehari sebelumnya, Kementerian Pertahanan (Kemhan) juga mengkonfirmasi 2 peserta lain yang wafat usai mengikuti Latsarmil, yakni Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq.

Istana Angkat Bicara

Atas peristiwa ini, Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg), Juri Ardiantoro memastikan para peserta Latsarmil Kopdes-KNMP akan ditangani sebaik-baiknya.

“Tentu hal terkait dengan peristiwa atau kejadian-kejadian seperti itu,” kata Ardiantoro di Kompleks Istana Kepresiden Jakarta, pada Rabu, 24 Juni 2026.

“Dan akan ditangani sebaik-baiknya dan tentu dipisahkan dari kegiatan atau kelanjutan dari program ini,” sambungnya.

Di sisi lain, Istana RI memastikan pemerintah menyiapkan langkah mitigasi dan evaluasi usai program Kopdes-KNMP yang dipastikan akan tetap berjalan.

“Jadi program Koperasi Merah Putih ini tentu tetap lanjut,” tegas Ardiantoro.

Berkaca dari hal itu, program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) menjadi sorotan usai mencuatnya kabar 3 pesertanya yang wafat saat Lansarmil.

Isu Peserta Lolos, namun Pilih Mundur

Bagi yang belum tahu, sebelum para peserta SPPI bisa menjadi manajer di Kopdes maupun KNMP, mereka diwajibkan ikut latihan dasar militer di satuan pendidikan (Satdik) TNI di berbagai wilayah RI.

Sebagian kalangan menilai, program tersebut bukan pelatihan manajer keuangan dan bukan kursus terkait tata kelola koperasi, melainkan latihan ‘kekompakan’ ala militer.

Tak ayal, beredar isu banyaknya peserta lolos seleksi langsung mundur sebelum pelatihan di Satdik TNI.

Program yang Dinilai untuk Latih Kekompakan

Dalam kesempatan berbeda, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Yandri Susanto sempat meyakinkan publik, adanya Latsarmil sebagai program untuk melatih kekompakan para pesertanya.

“Karena kan berbagai latar belakang, masih muda-muda, perlu penebalan rasa cinta terhadap bangsa dan negara,” kata Yandri dalam keterangannya, pada Selasa, 23 Juni 2026.

Yandri menyebut, Latsarmil juga diberikan untuk membentuk disiplin dan kesiapan mental para peserta yang akan menjadi ujung tombak program pemerintah di desa.

Terlebih, penempatan para pengelola di berbagai wilayah desa yang terpencil dinilai menuntut solidaritas dan mental yang kuat.

“Perlu semangat, perlu upgrade jiwa raganya. Dan itu memang perlu pelatihan khusus. Kemudian, kenapa dibarengkan? Mereka melihat kebersamaan, kekompakan,” beber Yandri.

“Sehingga dengan kebersamaan itu, timbul bahwa mereka semua merasa harus berhasil,” tambahnya.

Di lain pihak, peristiwa duka yang kini menyelimuti program Latsarmil bagi calon manajer Kopdes-KNMP, dinilai sudah cukup dan layak untuk dihentikan sementara.

Pakar UGM: Jauh Berbeda dengan Tugas Manajer

Secara terpisah, Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono menyebut desain pelatihan calon manajer KDMP dan KNMP tersebut tidak dipikirkan secara matang.

“Fenomena ini menunjukan bahwa desain pelatihan tidak dipikirkan secara matang atau ceroboh dalam memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan bagi para peserta,” kata Agustinus dalam keterangannya, pada Rabu, 24 Juni 2026.

Agustinus menilai, pelatihan pengurus Kopdes-KNMP semestinya mampu memberikan pengetahuan dan ketrampilan yang berhubungan dengan tugas-tugas manajerial.

“Pelatihan militeristik diberikan dalam wujud baris berbaris, lari, apel, dan memegang senjata, yang semuanya itu berbeda atau bahkan jauh berbeda dari tugas manajer koperasi,” jelas Agustinus.

“Lebih tepat dikelola dengan model kepemimpinan sipil, bukan model kepemimpinan militer,” tandasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *