Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Tepis Tudingan Isu Peserta Paskibraka Gagal Seleksi Buntut Dugaan Diskriminasi, BPIP: Kami Pilih Figur yang Paling Siap

Menyoroti penuturan BPIP Pusat usai viral dugaan kasus diskriminasi yang dialami siswi asal Makassar dalam seleksi Paskibraka Sulsel 2026
Menyoroti penuturan BPIP Pusat usai viral dugaan kasus diskriminasi yang dialami siswi asal Makassar dalam seleksi Paskibraka Sulsel 2026 (Foto: TikTok.com/@friska_32 – Dok Pemprov Sulsel)

Jabodetabek.Id– Belum selesai sebagian publik di media sosial menyoroti kontroversi pencoretan calon anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) asal Makassar, Cathlyn Yvaine Lesmana.

 Sebelumnya, Siswi SMAS Cerdas Bangsa Makassar ini disebut-sebut gagal lolos ke tingkat nasional dan posisinya digantikan peserta lain sebagai wakil dari Sulawesi Selatan (Sulsel).

Hal yang tak kalah menyita perhatian, terkait adanya isu yang mengungkapkan adanya dugaan diskriminasi terhadap Cathlyn lantaran bukan berasal dari tanah lokal.

Oleh sebab itu, kontroversi tersebut lantas memicu dugaan adanya ‘peserta titipan’ hingga diwarnai dengan isu diskriminasi dalam proses seleksi Paskibraka pada tingkat Provinsi Sulsel.

Setelah viralnya kasus itu, pihak penyelenggara dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Pusat kini angkat bicara.

Tepis Dugaan Isu Diskriminasi

Secara terpisah, Direktur Penyelenggara Program Paskibraka BIPP Pusat, Fuad Lutfi menampik dugaan diskriminasi yang dialami siswi asal Makassar tersebut.

Fuad menilai, proses seleksi berlangsung profesional, objektif, dan sesuai mekanisme nasional yang berlaku.

“Pada prinsipnya seleksi Paskibraka di Sulawesi Selatan dilaksanakan sesuai mekanisme nasional yang berlaku,” kata Fuad dalam keterangan resminya, pada Kamis, 28 Mei 2026.

“Itu melibatkan unsur pemerintah daerah dan tim seleksi pusat,” sambungnya.

Soroti Aspek Penilaian Seleksi

Fuad menjelaskan, seleksi Paskibraka tidak hanya menilai satu aspek tertentu, seperti nilai akademik atau tes wawasan kebangsaan semata.

Fuad menyebut, proses penilaian dilakukan secara menyeluruh untuk melihat kesiapan peserta sebagai calon pelaksana tugas kenegaraan.

“Paskibraka bukan sekadar mencari peserta dengan nilai tertinggi pada satu tes saja,” jelasnya.

“(Hal itu) melainkan memilih figur yang paling siap secara keseluruhan untuk menjalankan tugas kenegaraan,” imbuh Fuad.

Soroti Akumulasi Nilai Peserta

Dalam kasus ini, Cathlyn disinyalir gagal melaju ke tingkat nasional meski mendapat nilai seleksi yang tinggi.

Terkait hal tersebut, Fuad mengatakan terdapat banyak komponen yang menjadi dasar penilaian, mulai dari kesehatan, kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), kepribadian, wawasan kebangsaan, hingga kesiapan mental dan disiplin peserta.

Fuad menuturkan, seleksi dilakukan berjenjang mulai tingkat kabupaten atau kota, provinsi, hingga verifikasi nasional.

Dari setiap provinsi, pihaknya akan memilih 3 pasang peserta yang selanjutnya mengikuti tahapan seleksi pusat.

“Memang nanti ada perangkingan atau akumulasi nilai dari seluruh tahapan seleksi,” beber Fuad.

“Akumulasi nilai tertinggi itulah yang menjadi pertimbangan untuk diutus mengikuti seleksi tingkat pusat,” tandasnya.

Hingga berita ini terbit, belum ada keterangan lanjutan dari pihak sekolah maupun otoritas berwenang ihwal dugaan diskriminasi terhadap peserta Paskibraka asal Makassar tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *