Jabodetabek.id

Hadirkan Fakta-Realita dan Anti Hoax

Mendagri Malaysia Ungkap Kronologi Penembakan 5 WNI di Selangor, Abaikan Peringatan dan Ada Upaya Menabrak Kapal Milik APMM

Ilustrasi foto penembakan
Ilustrasi foto penembakan (Foto: pixabay/Monoar_CGI_Artist)

Jabodetabek.Id- Penembakan 5 WNI di Malaysia oleh aparat maritim APMM Malaysia masih dalam proses penyelidikan.

Dari 5 korban penembakan, 2 di antaranya meninggal dunia.

Satu orang ditemukan meninggal dunia di atas kapal saat ditemukan oleh APMM dan 4 orang lainnya dilarikan ke rumah sakit.

Korban meninggal dunia lainnya adalah satu orang yang sebelumnya sempat dikabarkan kritis dan koma usai menjalani operasi ginjal yang terkena timah panas aparat.

Korban meninggal dunia yang pertama berinisial B sudah dimakamkan di kampung halamannya di Riau dan yang kedua masih dalam prose identifikasi.

Sempat terjadi perbedaan kronologi antara korban dan APMM

Pada awal rilis pernyataan, APMM mengatakan kalau penembakan terjadi saat kapal yang ditumpangi oleh kelima WNI itu melintas di Tanjung Rhu.

Peluru ditembakkan karena diduga penumpang kapal melakukan perlawanan.

HA dan MZ yang kondisinya stabil telah memberikan keterangan terkait kronologi penembakan kepada pihak Kementerian Luar Negeri Indonesia dan KBRI Kuala Lumpur.

Keterangan yang diberikan oleh kedua korban justru bertolak belakang dengan apa yang disampaikan oleh pihak APMM.

Dalam keterangan yang dipublikasi laman resmi Kementerian Luar Negeri pada Rabu, 29 Januari 2025, HA dan MZ membantah telah melakukan perlawanan dengan senjata tajam kepada aparat APMM.

Menteri Dalam Negeri Malaysia ungkap kronologi penembakan APMM pada 5 WNI 

1.Kapal yang ditumpangi 5 WNI mengabaikan peringatan APMM

Menteri Dalam Negeri Malaysia Saifuddin Nasution dalam konferensi pers yang digelar di Gedung Parlemen pada Senin, 3 Februari 2025 menjelaskan kronologi terjadinya penembakan di wilayah Tanjung Rhu, Selangor pada Jumat, 24 Januari 2025 lalu.

Bermula pada pukul 02.58 saat Pusat Pengendalian Area di Klang mendeteksi sebuah kapal mencurigakan memasuki perairan Malaysia di dekat Pulau Carey.

Kapal Penggalang 31 kemudian berhasil mengidentifikasi kontak mencurigakan tersebut. 

APMM kemudian memperkenalkan diri menggunakan pengeras suara untuk mengeluarkan peringatan. 

“Memberikan peringatan dini merupakan prosedur yang sangat penting dan telah dilaksanakan,” kata Saifuddin.

Dalam penjelasannya, Saifuddin menyatakan jika kapal tersebut justru mengabaikan peringatan yang telah diberikan.

“Indikasi bahwa kapal tersebut tidak menghiraukan peringatan adalah kapal terus melaju kencang,” ujar Saifuddin.

Selanjutnya, kapal Penggalang 31 milik APMM melakukan pengejaran.

2.Pengejaran dan usaha menabrak kapal milik APMM

Saifuddin menjelaskan saat pengejaran dilakukan, kapal yang ditumpangi 5 WNI berusaha menabrak Penggalang 31.

Bagian kapal yang jadi target saat penabrakan adalah bagian mesinnya, di mana menimbulkan risiko ledakan.

3.Pihak APMM melepaskan tembakan peringatan

Dalam upaya menghentikan kapal tersebut, petugas APMM melepaskan tembakan peringatan ke udara, namun kapal tersebut terus melarikan diri.

Saifuddin mengatakan bahwa mengingat ancaman yang meningkat, petugas APMM mengarahkan ke mesin kapal, berharap dapat menonaktifkannya dan mengakhiri pengejaran.

Kapal yang ditumpangi WNI berhasil menghindari penangkapan dan hilang dari radar kapal milik aparat.

Penyelidikan yang dilakukan kepada petugas APMM yang terlibat

Kepala Polisi Selangor, Datuk Hussein Omar Khan mengungkapkan kalau penyelidikan saat ini telah memeriksa 14 saksi dari APMM.

Menurutnya, kemungkinan akan dilakukan pemanggilan untuk interogasi lebih lanjut.

“Petugas yang terlibat dalam operasi tersebut, termasuk mereka yang mengeluarkan senjata api juga akan dipanggil,” ujar Datuk Hussein seperti dikutip dari Malay Mail.

Saifuddin juga menambahkan kalau petugas APMM yang terlibat dalam penembakan itu telah dibebastugaskan untuk keperluan penyelidikan.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *